Dahlan Iskan dan Revolusi Listrik `Prabayar’
Tuesday, 25 October 2011 | By : admin
Karier (politik) Dahlan Iskan tampaknya mengalami lompatan yang luar biasa. Selain sebagai bos Jawa Pos Group, dan kemudian lompat pagar sebagai Direktur Utama PT PLN, kini Dahlan malah bertengger sebagai Menteri Badan Usaha Milik Negara. Ia nyaris tak berkeringat untuk mendapatkan posisi yang prestisius itu. Padahal, saat dipromosikan sebagai Direktur Utama PT PLN, Dahlan mulanya banyak menuai protes, termasuk dari penulis. Mana bisa orang media massa mengurusi sektor listrik yang begitu ruwet? Begitu kira-kira opini yang berkembang kala itu. Namun fakta berbicara lain. Kurang dari satu tahun, Dahlan Iskan “menggebrak“dengan terobosan kebijakan.
Dari sisi hulu, krisis listrik bisa dia atasi. Kendati cara yang dilakukan agak “klasik“, yakni menyewa diesel. Kemudian, dari sisi hilir (pelayanan), Dahlan menelurkan kebijakan yang bernama Gogress, Gerakan Satu Juta Sambungan dalam Sehari.Via program Gogress, PT PLN mampu menyapu jumlah daftar tunggu konsumen, yang jumlahnya mencapai 2 juta orang. Dan, satu lagi manuver kebijakan itu adalah program listrik “prabayar“. Program ini telah menjalar ke seluruh pelosok Tanah Air, termasuk wilayah Nusa Tenggara Timur, yang rasio elektrifikasinya baru mencapai 34 persen.“Ini revolusi saya. Saya akan menjadikan listrik prabayar untuk meningkatkan pelayanan pada konsumen listrik…,“kata Dahlan dalam suatu kesempatan diskusi dengan penulis. Tak kurang dari 2,5 juta akses listrik prabayar telah diwujudkan.
Terobosan listrik prabayar layak diberi apresiasi. Terbukti keberadaannya lebih memberi kemudahan dan kelebihan kepada konsumen. Misalnya konsumen tidak harus berurusan dengan petugas lapangan PT PLN.
Konsumen pun bisa mengelola sendiri kebutuhan listriknya. Ibarat membeli pulsa telepon seluler, konsumen bisa membeli stroom (isi ulang listrik prabayar) sesuai dengan kocek yang tersedia. Plus sederet kelebihan lainnya.
Namun implementasi listrik prabayar perlu diberi catatan kritis. Mengapa?
Sejatinya, secara kultural, implementasi listrik prabayar akan efektif ketika konsumen sebagai pengguna listrik telah mempunyai tingkat kesadaran yang tinggi terhadap hak dan kewajibannya. Pada konteks ini, kesadaran terhadap hak dan kewajiban konsumen listrik di Indonesia masih tergolong minimalis (rendah).
Pencurian Listrik
Pencurian listrik Dengan basis kesadaran yang minimalis itu, secara empiris setidaknya akan melahirkan dua hal negatif, yakni maraknya pencurian listrik dan loses (susut) yang meningkat. Faktualnya, fenomena pencurian, baik oleh konsumen industri, bisnis, maupun rumah tangga, masih tinggi. Dan kontribusi pencurian listrik terhadap susut (nonteknis) masih tinggi pula. Nah, dengan pola listrik prabayar, sangat boleh jadi pencurian listrik akan mengalami eskalasi.
Logikanya? Implementasi listrik prabayar mengakibatkan “terputusnya“komunikasi konsumen dengan petugas PT PLN, baik secara manajerial maupun petugas lapangan. Misalnya konsumen tak perlu datang ke kantor PLN setempat untuk membayar tagihan listrik. Konsumen cukup datang ke anjungan tunai mandiri (ATM) untuk mengisi “pulsa“listrik prabayar. Selain itu, tidak ada lagi petugas pencatat kWh meter yang datang memeriksa pemakaian listrik konsumen. Bahkan tim P2TL (Petugas Penertiban Tenaga Listrik) juga enggan datang. Apanya yang mau diperiksa, wong manajemen PT PLN tidak lagi mempunyai data pemakaian listrik konsumen? Dengan fenomena yang demikian, potensi bagi konsumen untuk melakukan pencurian listrik menjadi terbuka lebar. Bahkan penulis mendapatkan informasi: di suatu kompleks perumahan elite di area Jakarta, ada “gerakan“untuk bermigrasi menjadi pengguna listrik prabayar karena mereka tahu bahwa mereka mudah mencuri listrik melalui listrik prabayar karena mereka tahu bahwa mereka mudah mencuri listrik melalui listrik prabayar
Loses meningkat
Akibat meluasnya pencurian listrik itu, kerugian finansial PT PLN juga akan melambung tinggi. Indikator kerugian itu secara teknis bisa dilihat dari meningkatnya angka atau persentase loses. Saat ini posisi loses PT PLN sudah lumayan bagus, yakni 9 persen (single digit). Ini prestasi yang luar biasa, karena beberapa tahun sebelumnya, loses PT PLN masih bertengger pada angka “dua digit“, yakni 12 persen. Dengan demikian, akibat meluasnya pencurian listrik itu, angka loses PT PLN akan kembali melompat pada kisaran dua digit. Jika ini terjadi, performa finansial PT PLN akan kembali memburuk (rapor merah). Ingat, 1 persen loses nilainya tak kurang dari Rp 1 triliun!
Kesimpulan, Saran
Dalam konteks meningkatkan pelayanan kepada konsumen, terobosan manajemen PT PLN terus mengembangkan listrik prabayar patut dihargai, bahkan didorong. Namun manajemen PT PLN tidak boleh lengah.
Implementasi listrik prabayar setidaknya harus dibarengi dengan dua hal, yaitu pertama, lakukan sosialisasi hak dan kewajiban konsumen listrik secara masif di semua lini. Sosialisasi yang masif akan menciptakan konsumen berdaya. Mereka tidak akan mencuri dan/atau melakukan vandalisme infrastruktur ketenagalistrikan milik PT PLN (milik negara).
Kedua, upaya inspeksi petugas lapangan ke rumah-rumah konsumen yang telah menerapkan listrik prabayar harus lebih intensif dilakukan.
Jangan beri ruang konsumen nakal untuk mencuri. Sebaliknya, jika hal itu diabaikan, niat mulia Dahlan Iskan untuk “berevolusi“meningkatkan pelayanan kepada konsumen listrik akan sia-sia. Listrik prabayar justru akan menjadi bumerang bagi PT PLN sendiri. Dan, ini menjadi legacy (warisan) yang amat buruk dari seorang Dahlan Iskan. Semoga hal ini tidak terjadi.
***
Tulus Abadi, Anggota Pengurus Harian YLKI
(Dimuat di Koran Tempo, 24 Oktober 2011)
Related posts:

Facebook
Twitter




apakah dengan peralihan meter listrik prabayar ini konsumen tak mampu akan tetap mendapatkan supsidi atau kah malah akan disama rata kan dengan konsumen yang berkantong tebal?jika konsumen yang kecil yang hanya menggunakan listik dengan daya 450 W di samaratakan dengan pelanggan industri atau golongan yang mampu. berarti pln telah menghilangkan hak rakyat untuk mendapatkan supsidi listrik,
tapi kenyataan di lapangan masih bnyak di jumpai penyimpangan ,saya mengalaminya saat memohon sambungan listrik di PLN cab helvetia medan .permohonan sambungan suadah 3 bulan lebih tapi tidak ada realisasinya .tapi ada petugas yang bisa cepat dengan menitip “uang titipan ” kalau tidak percaya coba aja….
benar sekali yg ditulis Ahmad, YLKI seharusnya lebih menyoroti itu ketimbang mempopulerkan Dahlan Iskan. saya lebih hawatir tentang privatisasi produksi listrik yg konon sudah disahkan UU-nya oleh agung gumelar dan antek-anteknya.
saya pegawai PLN, saya akan coba jawab pertanyaan2 di atas :
@ Achmad : tahun 2010 kemarin DIS (panggilan akrab Dahlan Iskan di PLN) mengusulkan kepada DPR untuk menggratiskan listrik untuk pelanggan tak mampu (450 W). Ini adalah bukti niat PLN untuk memberikan hak atas listrik untuk seluruh lapisan masyarakat. Tetapi usulan ini ditolak DPR karena dianggap bukan pembelajaran yang baik untuk masyarakat. Sehingga sampai sekarang planggan 450 W masih tetap mendapatkan subsidi.
@ henry : bapak mengajukan permintaan untuk kapasitas berapa W? karena untuk mendapatkan meteran listrik prabayar 1300 W sekarang mudah bahkan gratis untuk upgrade dari 450 ke 1300. saya jadi gregetan juga klo ada yang minta2 seperti itu, karena begini pak, PLN Distribusi bekerjasama dengan banyak perusahaan kontraktor penyambungan listrik, mungkin “petugas” nakal inilah yang meminta kepada bapak. silakan ajukan keluhan langsung ke kantor Distribusi di Medan pak. Saya yakin langsung diproses.
@ Aafia : Privatisasi tenaga listrik juga menjadi isu yang hot di kalangan pegawai PLN, karena berkaitan langsung dengan posisi kami sebagai pegawai. saat ini SP PLN sudah menolak privatisasi PLN, kami juga menunggu action politik dari Pemerintah (termasuk Menteri BUMN yang baru
) semoga listrik tetap berpihak kepada rakyat.
oiya sedikit kritik, kata2 “Ia nyaris tak berkeringat untuk mendapatkan posisi yang prestisius itu.” sepertinya tidak proporsional mengingat perjalanan hidup beliau dari bukan siapa2 hingga sekarang, DIS selama hampir 2 tahun di PLN bekerja sangat keras dan memberi kami contoh cara profesional untuk mencintai pekerjaan kami.
Terima kasih atas perhatian2nya. Kritik dan saran kepada PLN adalah bukti masyarakat merasa memiliki PLN.
Pelayanan PLN buruk luar biasa,.. ruko kosong, tagihan yg harus dibayar hampir setiap bulan berkisar 2 juta lebih bilangnya stand meter saya jalannya mundur. Teknisi datang tgl 21 Juli 2011 ternyata kerusakan bukan di stand meter saya, baru hari ini (November 2011) teknisi dateng lagi ngecek kabel. Sedangkan tagihan saya jalan terus, minta restitusi ngak boleh… saya dirugikan banget nih… kemana saya harus ngadu ??? 2 bulan pertama bayar 4 juta lebih, 3 bulan selanjutnya saya ngak mau bayar karena tekor malah disegel!!! Arogant sekali PLN padahal lembar P2TL dan para teknisinya pun sudah mengakui bukan kesalahan stand meter saya…
untuk biaya pasang baru PLN memang sudah jelas nominalnya. tapi untuk instalatir / cv masih abu-abu, harganya kayak barang dipasar, tawar menawar, berhubung konsumen membutuhkan akhirnya mau aja membayar mahal. kalo mengadu ke PLN pasti tanggapanya Bukan tanggung jawab PLN. bagaimana kalo biaya CV seluruh indonesia diseragamkan, paling tidak ada harga pasti kalo pasang baru berapa…